Opini

Rohana Kudus: Wartawati Pertama Indonesia dan Perannya dalam Pendidikan Perempuan

Rohana Kudus. (Sumber Gambar Wikipidia).

RIAULINK.COM - Rohana Kudus lahir pada 20 Desember 1884 di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat. Ayahnya bernama Moehammad Rasjad Maharadja Sutan bekerja sebagai kepala jaksa di pemerintah Hindia Belanda dan ibunya bernama Kiam. Rohana juga merupakan sepupu dari Agus Salim. Rohana tumbuh dalam keluarga yang gemar membaca. Sejak kecil ia sudah dapat mengakses material membaca seperti buku, majalah dan koran yang dimiliki ayahnya. 

Pada masa itu, pendidikan bagi perempuan masih sangat terbatas, namun Rohana Kudus berhasil melampaui batasan-batasan tersebut. Pada umur 5 tahun Rohana sudah mengenal abjad latin, arab dan arab melayu berkat didikan ayahnya. Ketika Rohana beranjak usia 6 tahun ayahnya pindah tugas ke Alahan Panjang sebagai juru tulis, disana ia diajari membaca, menulis dan berhitung oleh tetangga nya, Jaksa Alahan Panjang Lebi Jaro Nan Sutan dan Adiesa yang menganggap Rohana sebagai anak mereka sendiri, lantaran tidak memiliki anak. Rohana juga bisa berbahasa Belanda di usia 8 tahun.

Sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS)
Sumber Gambar: Historia.id

Meski tidak memiliki pendidikan formal, Rohana sangat peduli dengan nasib perempuan yang tidak memiliki kesempatan untuk mengemban pendidikan. Ketidaktersediaan sekolah untuk perempuan lah yang mendorong Rohana mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia, sekolah yang mengajarkan kaum perempuan tentang keterampilan. Semangat juang Rohana untuk mendirikan sekolah sungguh berkobar kobar. Kepada suaminya Abdul Kudus, Rohana mengucapkan keinginan nya untuk memperluas perjuangan nya itu. 

“Kalaupun hanya mengajar, yang bertambah pintar hanya murid-murid saya saja. Saya ingin sekali membagi berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman dengan kaum perempuan di daerah lainnya.” 

Setelah berdiskusi dengan suaminya itu, Rohana akhirnya mengirimkan surat kepada Datuk Sutan Maharadja, yang merupakan pemimpin redaksi Oetoesan Melajoe, di Padang. Rohana menyampaikan keinginannya agar perempuan dapat menerima kesempatan pendidikan yang sama dengan laki-laki. Rohana juga mengusulkan agar ada ruang untuk tulisan perempuan. Dengan itu, lahir lah surat kabar “Soenting Melajoe”. Tulisan yang dimuat di Soenting Melajoe beragam. Selain berita terjemahan dari bahasa Belanda yang dikerjakan Rohana, koran tersebut juga menyajikan sejarah, tulisan kontributor dan juga puisi.

“Pahlawan perempuan yang gerakan nya secara lokal namun berhasil menginspirasi secara nasional,” Ujar seorang dosen Universitas Andalas Padang, Dr. Ilmiawati, ketika di wawancarai.

Dalam buku 100 Great Woman yang disusun oleh Fenita Agustina dkk., terungkap bahwa banyak petinggi Belanda yang mengagumi kemampuan dan prestasi Rohana. Perjuangannya yang luar biasa juga diabadikan dalam beberapa surat kabar sebagai pionir pendidikan perempuan di Sumatera Barat.

“Dia orang yang sebenarnya yang tidak terkungkung oleh peran gender dimasa itu, ia inisiatif, ia bergerak dan ia lahir di minang kabau yang matrilineal nya terasa di zaman itu,” Ujar Dr. Ilmiawati.

Kelas Kerajinan Amai Setia (KAS)
Sumber Gambar: https://jurnalsoreang.pikiran-rakyat.com/

Rohana Kudus menjadi teladan bagi banyak wanita Indonesia dengan membuktikan bahwa perempuan juga mampu berprestasi di bidang pendidikan dan jurnalistik. Sebagai contoh, dalam sebuah wawancara, dia pernah berkata, "Perempuan memiliki potensi yang sama dengan laki-laki. Mereka harus diberi kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri dan berkontribusi pada masyarakat." Peran Rohana Kudus tidak hanya terbatas pada kesuksesannya sebagai wartawati, tetapi juga dalam memperjuangkan pendidikan yang setara bagi perempuan. Dia aktif mempromosikan akses pendidikan bagi perempuan di berbagai kesempatan dan menjadi panutan dalam memperjuangkan hak-hak perempuan.

 “Menurut saya pribadi Rohana kudus  ini sosok wanita yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai moral HAM sesama manusia,” Ungkap salah satu mahasiswi jurusan hukum Universitas Andalas, Syifa Harty Suryani.

Rohana Kudus juga memiliki pengaruh yang besar dalam budaya lokal. Melalui tulisannya, dia memperkenalkan budaya dan tradisi kepada masyarakat luas, menjadikannya sebagai salah satu tokoh yang berperan dalam melestarikan kearifan lokal. Perjuangan Rohana Kudus tidak hanya memperjuangkan hak pendidikan perempuan, tetapi juga pemberdayaan perempuan secara luas. Dia mendukung pemberian kesempatan yang setara bagi perempuan dalam berbagai bidang, termasuk politik dan ekonomi.

“Menurut ku Rohana Kudus adalah sosok pahlawan sejati, ia memiliki peran yang besar dalam memperjuangkan pendidikan perempuan di Indonesia. Dengan sifatnya yang tekun dan giat, ia pun berhasil mewujudkan impiannya itu.” Ucap salah satu mahasiswa jurusan sastra Inggris Universitas Andalas, Yuke Yulia Evan ketika di wawancarai.

Meskipun telah ada kemajuan dalam akses pendidikan perempuan di Indonesia, masih banyak tantangan yang dihadapi, termasuk kesenjangan antara perkotaan dan pedesaan, serta faktor-faktor ekonomi dan budaya. Organisasi non-pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat memainkan peran penting dalam memperjuangkan hak pendidikan perempuan dan memastikan bahwa akses pendidikan setara bagi semua anak, tanpa memandang gender.
“We need local heroes, we need to be inspired by her.” Ucap Dr. Ilmiawati 
Rohana Kudus adalah representasi dari keberanian dan keteguhan hati yang ditunjukkan dalam menghadapi tantangan dan kesulitan di masanya. Rohana Kudus berhasil menginspirasi banyak orang dengan perjuangannya yang gigih dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama dalam akses pendidikan dan kesetaraan gender, di tengah latar belakang pendidikan perempuan yang penuh dengan keterbatasan. 

Melalui upayanya untuk mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia dan membuat surat kabar "Soenting Melajoe", Rohana Kudus tidak hanya menciptakan wadah untuk pendidikan perempuan, tetapi juga menggunakan media untuk menyuarakan aspirasi dan hak-hak perempuan. Dia menjadi teladan bagi generasi berikutnya karena dedikasinya yang tak kenal lelah dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. 

Rohana Kudus aktif dalam mendorong peran perempuan dalam bidang budaya, ekonomi, politik, dan pendidikan. Melalui tulisannya, dia membantu melestarikan kearifan lokal dan memperkuat identitas bangsa
Sebagai pahlawan lokal yang memiliki pengaruh besar, Rohana Kudus mengajarkan kita pentingnya keteguhan, semangat perjuangan, dan keberanian untuk membela keadilan dan kesetaraan. Peran Rohana Kudus memberikan inspirasi bagi kita semua untuk terus berjuang dan memperjuangkan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender meskipun tantangan masih ada. Kita dapat membangun masyarakat yang lebih adil, inklusif, dan berkeadilan bagi semua dengan mengikuti jejaknya.

 

Oleh: Alya Humaira (Mahasiswi UNAND jurusan Sastra Inggris 23).