Internasional

Perang Rusia-Ukraina Makin Gila, Putin-Zelensky Saling Bom

Foto: Infografis/ Perang Rusia-Ukraina Gak Kelar-Kelar, NATO Mulai Pusing/ Ilham Restu

RIAULINK.COM - Perang Rusia dan Ukraina masih terus terjadi. Memasuki hari ke 530, peperangan makin masif.

Kedua negara saling melempar serangan. Ukraina terus menyerang wilayah Rusia dengan drone sementara Kremlin membalas Kyiv dengan rentetan rudal.

Ukraina Bom Tanker Minyak Rusia- Bandara Moskow

Ukraina menyerang salah satu kapal tanker minyak terbesar Rusia akhir pekan. Kapal berbendera Rusia, Sig, ditabrak drone yang membawa 450 kilogram (992 pon) TNT sesaat sebelum tengah malam.

Serangan itu disebut menciptakan lubang di ruang mesin kapal di sisi kanan. Hal itu memaksa 11 awak kapal berjuang mengatasi kebocoran.

Badan Federal Rusia untuk Transportasi Kelautan dan Sungai mengklaim tidak ada korban. Kremlin pun berujar posisi Sig, tidak sedang membawa minyak ketika drone menyerang.

Namun pejabat Ukraina, mengatakan beberapa awak terluka. Kyiv membantah pernyataan Rusia seraya menyebut kapal tanker itu membawa bahan bakar untuk militer Rusia.

Serangan ke Sig terjadi hanya beberapa jam setelah drone laut Ukraina menargetkan pangkalan angkatan laut utama di Novorossiysk, sebuah kota pantai di Laut Hitam yang merupakan rumah bagi pelabuhan terbesar Rusia berdasarkan volume kargo yang ditangani. Sebuah kapal pendarat amfibi Rusia ditabrak dan membuatnya miring dan duduk sangat rendah di air.

Sementara itu, ledakan juga menghantam wilayah Ukraina yang diduduki Rusia, sesaat setelah serangan drone ke kapal tanker minyak Rusia. Jembatan yang menghubungkan Krimea dengan bagian wilayah Kherson di bawah kendali Rusia diserang drone.

Penjabat kepala wilayah Kherson yang ditunjuk Rusia, Vladimir Saldo, mengatakan rudal yang menghantam dua jembatan adalah jenis Storm Shadows. Ini rudal jarak jauh yang diluncurkan dari udara yang dipasok ke Ukraina oleh Inggris.

Di sisi lain, Minggu, Bandara Internasional Vnukovo Moskow kembali membatasi penerbangan. Serangan drone yang kembali menyasar ibu kota menjadi penyebab.

Kantor berita TASS mengatakan pembatasan penerbangan dimulai pada pukul 10.26 pagi di ibu kota. Otoritas beralasan "sesuatu terjadi di luar kendali bandara".

Walikota Moskow Sergei Sobyanin juga membenarkan hal itu. Secara terpisah, ia mengatakan sebuah drone berusaha menerobos pertahanan udara Moskow sekitar pukul 11.00 pagi.

Namun, Kementerian Pertahanan Rusia kemudian mengatakan serangan drone telah digagalkan pukul 11:27 waktu setempat. Serangan drone di Moskow dan di dalam Rusia telah menjadi semakin umum dalam beberapa minggu terakhir.

Putin Rudal Ukraina, Hancurkan "Bank Darah"

Rusia sendiri membalas Ukraina, Sabtu-Minggu. Pasukan Presiden Vladimir Putin dilaporkan meluncurkan serangan multi gelombang dalam semalam ke Ukraina.

Tak tanggung-tanggung, 70 senjata serbu udara menghantam beberapa wilayah Kyiv. Termasuk rudal jelajah dan hipersonik serta drone buatan Iran.

Angkatan Udara Ukraina mengatakan setidaknya 10 rudal tampaknya menembus pertahanan udara. Namun sebanyak 30 dari 40 rudal jelajah dan 27 drone Shahed dihancurkan.

"Secara total, dalam beberapa gelombang serangan, dari sore hari tanggal 5 Agustus hingga pagi hari tanggal 6 Agustus 2023, menggunakan 70 senjata serbu udara," kata Angkatan Udara Ukraina.

Salah satu target serangan adalah "bank darah" Ukraina di kota timur Kupiansk. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menggambarkan serangan terhadap Kupiansk di wilayah Kharkiv itu sebagai "kejahatan perang".

"Ada yang tewas dan terluka," tegasnya, dimuat Reuters.

Meski begitu, beberapa jam setelah pernyataan Zelenskyy muncul, Gubernur Donetsk yang ditunjuk pihak Rusia mengatakan sebuah gedung universitas di daerah itu terbakar karena penembakan tentara Ukraina dengan bom tandan. Namun sejumlah media, termasuk Al-Jazeera belum dapat mengonfirmasi klaim pejabat Rusia itu.

Perkembangan Lainnya

Sementara itu, sejumlah negara dan organisasi menghadiri KTT Perdamaian Ukraina di Jeddah, Arab Saudi. Ada 30 negara hadir, termasuk China, Chile, Mesir, Uni Eropa, Meksiko, Polandia dan Indonesia

Negara yang hadir setuju bekerja sama mencapai perdamaian abadi di kawasan. Meski demikian, Rusia tak masuk dalam undangan.

"Para peserta menyepakati pentingnya melanjutkan konsultasi internasional dan bertukar pendapat untuk membangun landasan bersama yang akan membuka jalan bagi perdamaian," bunyi laporan media lokal Arab Saudi, Saudi Press Agency (SPA), Minggu.

"Mereka juga menekankan pentingnya memanfaatkan pandangan dan saran positif yang dibuat selama pertemuan ini," tambahnya.

Kepala kantor kepresidenan Ukraina juga memberi pernyataan soal pertemuan itu. Pembicaraan "produktif" dan "sangat jujur dan terbuka".

Sementara Wakil Menteri Luar Negeri Rusia menolak pertemuan. Ia mencapnya sebagai sesuatu yang "ditakdirkan" untuk mencegah perkembangan yang berarti.

Mengutip CNN International, pertemuan tersebut dipandang sebagai sarana untuk menyusun kerangka kerja masa depan. Ini juga dilihat sebagai tempat untuk mendapatkan dukungan bagi proposal perdamaian Kyiv dari luar pendukung inti Barat seperti AS dan Inggris.

Pertemuan Jeddah menjadi pertemuan perdamaian kedua yang diselenggarakan. Sebelumnya negara-negara itu juga mengadakan pertemuan serupa di Kopenhagen, Denmark, pada Juni.

Update Wagner

Wagner kini tak beroperasi lagi di Ukraina. Namun, tentara bayaran asal Rusia tersebut kini diminta untuk terjun langsung ke Niger.

Niger merupakan negara di Afrika, yang terguncang kudeta pekan lalu. Salah satu pemimpin kudeta telah melaporkan mencari bantuan pertahanan dari Wagner.

Mengutip Associated Press (AP), jenderal Salifou Moody disebut telah mengajukan permintaan selama kunjungan ke Mali. Di sana, ia pun sempat bertemu dengan perwakilan tentara bayaran pimpinan Yevgeny Prigozhin itu.

"Mereka membutuhkan (Wagner) karena mereka akan menjadi jaminan mereka untuk memegang kekuasaan," kata yang juga jurnalis Prancis Wassim Nasr, seorang peneliti senior di Soufan Center.

Prigozhin sendiri menyebut kudeta Niger sebagai "pemberontakan rakyat yang dibenarkan melawan eksploitasi Barat". Pasca kudeta, dukungan ke Rusia meningkat seiring digulingkannya pemerintah Presiden Mohamed Bazoum yang disebut pro Barat.

Bazoum saat ini telah menjadi tahanan rumah. Komunitas Ekonomi Negara-Negara Afrika Barat (ECOWAS) mengancam akan mengirim pasukan ke Niger jika para pemimpin kudeta tidak mengembalikannya ke posisi semula.