Lingkungan

Bertahun-tahun Hirup Debu dan Semen, Warga Geram PT Semen Padang Abaikan Kondisi Kesehatan Mereka

Keterangan foto : packing plant (pengantongan) PT Semen Padang (Persero) Dumai di Sungai Sembilan

DUMAI, RIAULINK.COM - Warga RT 04 Kelurahan Bangsal Aceh, Kecamatan Sungai Sembilan gerah dengan keberadaan PT Semen Padang. 

Keberadaan perusahaan yang memiliki kantor pusat di Kelurahan Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan, Provinsi Sumatera Barat ini seolah mengabaikan kondisi yang dirasakan warga karena debu yang berterbangan menyebabkan terganggunya kesehatan bagi warga setempat.

Seperti keluhan yang diutarakan salah seorang warga, Ali Akbar kepada media, Selasa (14/1/2020). Ia bersama warga lainnya merasa sudah bosan minta solusi dari Semen Padang, karena perusahaan tak kunjung menyelesaikannya.

"Bertahun-tajun yang kami rasakan hanyalah debu bahkan masuk ke rumah kami, pokoknya benar-benar minta ampun kami,"ucapnya dengan nada kesal.

Bahkan saking geramnya dengan Semen Padang sampai-sampai warga sekitar meminta mereka menghentikan operasional perusahaan tersebut.

Seharusnya perusahaan mengerti dengan apa yang warga rasakan selama ini, sebab dampaknya bisa mengancam kesehatan anak-anak.

"Jangankan menghentikan bila perlu mereka (Semen Padang) hengkang dari sini,"tuturnya tegas.

Sehingga mereka berfikir untuk melakukan demo ke perusahaan yang diresmikan sejak 21 Juni 2013 silam ini. 

"Karena kurang tanggapnya mereka terhadap kondisi kami, kamipun berencana akan melakukan demo dalam waktu dekat ini,"tukas Ali sembari berjanji.

Di lain kesempatan, Camat Sungai Sembilan Tanwir Azhar Efendi mengaku wajar jika warganya bersikap demikian.

Karena selama bertahun-tahun menghisap debu dari perusahaan yang mengembangkan fasilitas packing plant (pengantongan) semen yang sudah diolah di kantor pusatnya.

Bahkan pihak kecamatan sudah turun beberapa kali untuk meninjau keadaan warga RT 04. Dirinyapun membenarkan jika posisi perusahaan tersebut memang bersebelahan dengan area warga.

"Kasihan memang kita lihat warga sekitar, mereka harus menghirup udara yang bercampur dengan debu dan semen. Sedangkan pembongkaran debu dalam sebulan dua kali. Seharusnya ini kan tanggungjawab mereka, jangan hanya mencari keuntungan di atas penderitaan masyarakat saja,"ucapnya dengan raut kesal.

Dari penuturan Kepala Unit Humas dan Kesekretariatan PT Semen Padang, Nur Anita Rahmawati mengatakan kepada pihaknya beberapa waktu lalu kalau mereka berkomitmen memperbaiki fasilitas produksi yang akan dilakukan tahun 2020 ini untuk mendapatkan pola penanganan yang tepat untuk mengatasi dampak debu tersebut.

"Sudah kami koordinasikan rencana penanganannya, dan akan kami lakukan tahun ini juga,"ucapnya menirukan Humas Semen Padang tersebut.

"Namun kita minta jangan janji-janji saja, buktikan kalau debu mereka itu menghilang,"ucapnya menimpali.

Apalagi saat ini, kondisi udara di Sungai Sembilan termasuk kategori berbahaya.

"Pasalnya ini diperparah dengan perusahaan yang mengabaikan lingkungan sekitar, yakni dengan menciptakan penghijauan atau ramah lingkungan,"papar Ucok.

Perusahaan Dinilai Tak Fasilitasi CSR, DPRD : Semen Padang Menyalahi Aturan 

Keresahan warga yang sudah berkoar-koar di media ini mendapat respon langsung dari pimpinan DPRD Kota Dumai, yakni Mawardi.

Wakil Ketua DPRD Kota Dumai ini menuturkan seharusnya perusahaan harus cepat tanggap akan keresahan warga selama ini.

Meskipun perusahaan mengantongi izin operasi, namun harus ada timbal baliknya terutama bagi warga sekitar yaitu Afran ring satu.

Tak itu saja, diketahui perusahaan saling tak pekanya mereka juga tidak menjalankan program corporate social rensponsibility (CSR) termasuk pelayanan kesehatan gratis.

"Ini sudah menyalahkan aturan, kan ada CSR yang wajib di keluarkan oleh perusahan . CSR itu tidak perlu diminta,  CSR itu wajib dikeluarkan,”tegasnya.

"Kalau ini memang tidak diindahkan oleh mereka, dirinya pun berjanji akan melakukan sidak terkait kebenaran dari pengakuan warga tersebut,"tukasnya. (Kll)