Hukrim

BC Dumai Musnahkan Barang Hasil Penindakan 2017 dan 2018

Keterangan foto : saat pihak BC dan kepolisian memberikan keterangannya sebelum dilakukan pemusnahan barang tegahan

DUMAI, RIAULINK.COM - Kantor Pengawasan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya B Dumai melakukan pemusnahan barang hasil penindakan tahun 2017 dan 2018 yang telah ditetapkan menjadi milik negara.

Dimana barang hasil penindakan dan penegahan ini saat inpirtasinya melanggar ketentuan larangan pembatasan (lartas) sesuai dengan ketentuan UU Cukai dan Kepabeanan.

Bertempat di lapangan gudang tempat penimbunan pabean (TPP) BC Dumai, Kamis (12/12/2019) siang. 

Adapun barang yang dimusnahkan yakni rokok dari berbagai merek sebanyak 1.800 slop, balpres 24 bal, ikat pinggang 180 koli, tas dan dompet berbagai merek 50 Koli, kaos kaki dan pakaian 50 Koli, drum plastik 35 buah.

Kemudian mainan anak-anak 20 koli, minuman mengandung etik alkohol (MMEA) berbagai merek dengan kandungan alkohol  di atas 5 persen  sebanyak 188 botol.

Lalu MMEA dengan kandungan alkohol 5 persen sebanyak dua create, 48 kaleng piring dan gelas sebanyak 11 koli, obat-obatan juga kosmetik sebanyak tujuh kotak, terakhir ban dalam kendaraan bermotor roda empat 15 koli. 

Kepada media dalam keterangan resminya, Kepala Seksi Pusat Layanan dan Infornasi, Gatot Kuncoro berterimaka kasih kepada segenap masyarakat Dumai atas kerjasamanya serta memberikan dukungannya kepada BC Dumai.

Menurut dia, penindakan barang tegahan ini merupakan hasil manisfestasi dari fungsi BC sebagai community protector (pelindung masyarakat) dari berbagai barang ilegal yang berbahaya bagi kesehatan masyarakat termasuk lingkungan.

"Hal ini merupakan kesungguhan dari segenap petugas BC untuk menciptakan iklim usaha yang adil dan berimbang,"papar dia usai pemusnahan.

Dikatakannya, dari hasil penindakan ini, tentu saja berpotensi kerugian negara dari sisi penerimaan cukai serta akan menimbulkan persaingan usaha yang tidak sehat.

"Sebab sebagai salah satu contohnya dari penjualan rokok dan MMEA ilegal yang murah ini akan meningkatkan konsumsi atas barang yang seharusnya diawasi peredarannya dan dibatasi konsumsinya,"ungkap dia.

Baginya, peredaran barang bekas seperti pakaian dan ban bekas akan membahayakan masyarakat baik dari sisi keselamatan maupun kesehatan.

Sementara pemusnahan dilakukan untuk memberikan efek jera bagi pelaku pelanggaran.

"Serta sebagai upaya penegakan hukum untuk melindungi negara dan kalangan industri dari masuk dan beredarnya barang-barang Ilegal,"tukasnya.(Kll)