Dunia

Dampak Perang Dagang, Ekspor China ke AS Anjlok

RIAULINK.COM - Jumlah ekspor China ke Amerika Serikat merosot pada Agustus 2019 seiring dengan jumlah pengiriman produk ke Negara Paman Sam tersebut juga turun drastis.

Merosotnya jumlah ekspor kian menambah kekhawatiran dampak dari perang dagang di antara kedua negara perekonomian terbesar di dunia itu.
Seperti dikutip dari BBC, China tengah bersiap untuk melakuka kebijakan-kebijakan untuk menghindari risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi yang kian tajam.

Salah satu kebijakan yang bakal dipertimbangkan adalah memangkas suku bunga kredit.

Adapun biro statistik setempat mencatatkan, ekspor Cha pada Agustus merosot 1 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Angka tersebut cukup besar, meski pada Juni lalu total ekspor China juga mengalami penurunan hingga 1,3 persen.

Sementara itu, untuk ekspor China ke Amerika Serikat merosot 16 persen secara year on year, jauh lebih lambat jika dibandingkan dengan Juli yang turun sebesar 6,5 persen. Di sisi lain, impor China dari Amerika Serikat juga anjlok hingga 22,4 persen.

Adapun pada Agustus, ketegangan perdagangan antara China dan Amerika Serikat kembali mengalami eskalasi. Pasalnya, AS memutuskan untuk kembali menambahkan tarif sebesar 15 persen untuk berbagai impor produk konsumer asal China.

China pun membalas dengan menerapkan bea masuk, serta membiarkan nilai tukar yuan melemah untuk menghindari tekanan tarif.

Analis mengatakan, dengan membiarkan nilai tukar yuan melemah, China jadi terhindar dari peningkatan ongkos produksi.

Pada Agustus, China membiarkan mata uangnya melampaui level 7 yuan per dollar AS untuk pertama kalinya sejak krises keuangan global. Hal tersebut membuat Washington menyebut Beijing sebagai manipulator mata uang.

" Ekspor masih lemah bahkan dalam menghadapi depresiasi mata uang yuan yang substansial, menunjukkan bahwa permintaan eksternal yang lamban adalah faktor paling penting yang mempengaruhi ekspor tahun ini," kata ekonom di Zhong Hai Sheng Rong Capital Management Zhang Yi.

Banyak analis memperkirakan pertumbuhan ekspor akan melambat lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang. Pasalnya, terdapat beberapa kebijakan tarif lanjutan AS yang baru mulai berlaku pada 1 Oktober dan 15 Desember.

Adapun tak hanya ke AS,ekspor China ke Eropa, Korea Selatan, Australia, dan Asia Tenggara juga memburuk, baik secara tahunan maupun jika dibandingkan dengan Juli.

Walaupun demikian, ekspor ke Jepang dan Taiwan sedikit lebih baik dari bulan sebelumnya.