Metropolis

Banjir Landa Pekaitan, Warga Mengeluh Kesulitan Keluarkan Hasil Produksi Kebun

ROHIL, RIAULINK.COM - Banjir  yang melanda di beberapa Desa wilayah Kecamatan Pekaitan, Kabupaten Rokan Hilir, yang disebabkan oleh tingginya curah hujan dalam minggu terakhir ini, dan ditambah naiknya air pasang Keling dari laut melalui sungai Rokan, sehingga mengakibatkan beberapa ruas jalan dan rumah warga tergenang air.

Pantauan dilapangan,  Selasa (9/11/2021) jalan lintas pesisir didepan kantor Camat Pekaitan Kabupaten Rokan Hilir (Rohil ) tergenang air sampai sebetis orang dewasa. Selain itu terlihat juga beberapa rumah warga Kepenghuluan Pedamaran sudah tergenang air.

Salah seorang warga Kepenghuluan Pedamaran Kecamatan Pekaitan, Sudiono ( 47) saat ditemui wartawan mengeluhkan kondisi jalan saat ini yang hancur sehingga masyarakat kesulitan mengeluarkan hasil produksi kebun sawitnya sehingga menyebabkan turunnya harga sawit di Pedamaran. 

Keluhan terkait tidak stabilnya hasil buah sawit di jelaskan Sudiono dimulai dari terhambatnya akses jembatan Pedamaran II yang menjadi akses vital perekonomian dan kehidupan masyarakat Kecamatan Pekaitan mengalami musibah patah tiang penyangga nya karena tertabrak ponton pembawa material sehingga mobil pengangkut sawit tak bisa lewat jembatan dan diperparah dengan kondisi banjir sehingga jalan alternatif di Kepenghuluan Karya Mulyo Sari rusak parah dan terputus.

"Saat ini masyarakat Pedamaran dan sekitarnya semakin sulit untuk mengeluarkan hasil produksi sawitnya karena akses jembatan Pedamaran II tak bisa dilalui cold diesel maupun eltor bermuatan sawit ditambah lagi masalah banjir yang mengakibatkan jalan alternatif rusak parah dan terputus sehingga harga buah sawit makin menurun dari harga normal," kata Sudiono.

Lanjutnya, namun sangat disayangkan peraturan agar lewat jembatan tidak dilalui mobil bermuatan di atas 5 ton seperti nya hanya berlaku pada masyarakat Kecamatan Pekaitan saja, khususnya pengangkutan sawit, tapi orang dari luar yang bawa material bangunan seperti pasir, batu, semen dan kayu dalam satu bulan ini bebas setiap hari tanpa penjagaan pihak terkait," keluh Sudiono.

"kami masyarakat Pedamaran atau Kecamatan Pekaitan minta perlakuan adil saja, jika bawa sawit tak bisa pakai eltor dibawah 5 ton, ya mobil roda empat lainnya dari luar juga tak boleh bawa muatan. Baru mau merasakan harga buah sawit naik, malah dapat musibah jembatan dan banjir. Jika dihitung hasil produksi kebun masyarakat Pedamaran aja per hari 100 ton dikalikan 100 rupiah per kilogram penurunan harganya, sudah 10 juta per hari kerugian masyarakat, sebulan dah 300 juta," ucapnya kesal.

Camat Pekaitan Taryono SE saat dikonfirmasi terkait kondisi banjir di Kecamatan Pekaitan serta kondisi jembatan Pedamaran II saat ini mengatakan bahwa beberapa desa atau Kepenghuluan di Pekaitan mengalami banjir Akibat tingginya curah hujan dalan sepekan terakhir ditambah air pasang Keling yang naik kepermukaan.

"Iya, ada beberapa Kepenghuluan yang terkena banjir, Pedamaran, Sungai Besar, Suak Air Hitam, Kubu Satu dan KMS yang disebabkan curah hujan yang tinggi dserta naiknya pasang Keling," kata Taryono, SE.

Lanjutnya, saat ini jalan lintas pesisir depan kantor camat masih tergenang air namun sudah mulai surut airnya. Dan terkait akses pruduksi kebun masyarakat masih menggunakan jalan alternatif yang melintasi Kepenghuluan Karya Mulyo Sari yang kondisinya rusak berat, sementara melalui jembatan Pedamaran II belum dibenarkan kendaraan roda empat membawa muatan dan saat ini jembatan masih dalam proses pendeteksian melalui satelit oleh pihak konsultan ," terang Taryono.

Taryono berharap agar permasalahan jembatan Pedamaran dapat segera terselesaikan perbaikannya, karena  masyarakat sudah banyak mengalami kerugian. Diharapkannya juga agar pihak terkait dapat aktif dalam mengawasi kondisi jembatan Pedamaran II agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial bagi warga sekitar karena masuknya kenderaan dari luar dengan membawa muatan bisa lolos dari pengawasan.