Sosial

Kisah Pilu Pak Purba, Tunanetra Pedagang Kuaci di Pekanbaru yang Tak Pernah Dapat Bantuan Pemerintah

PEKANBARU, RIAULINK.COM - Panas terik tak membuat semangat Pak Purba berkurang dalam mengais rezeki. Pria disabilitas ini selalu terlihat semangat menawarkan dagangannya berupa kuaci, rokok, dan jajanan coklat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Semua dagangannya itu disimpan dalam kotak kecil sederhana. Agar mudah dibawa kemana-mana.

Pria berusia 47 tahun ini kerap terlihat menjajakan dagangannya di sekitar wilayah Panam, Pekanbaru, khususnya daerah Kampus Universitas Riau (Unri) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Suska Riau.

Seperti pada Senin (25/10/2021), Pak Purba terlihat duduk termangu di pinggir Jalan HR Soebrantas, sebelum SPBU Panam. Dia sedang menunggui dagangannya. Menunggu pembeli yang akan memberikannya beberapa ribu rupiah setiap transaksi.

Pak Purba adalah seorang tunanetra. Di tengah keterbatasannya, ia menggunakan tongkat kayu yang menuntunnya untuk berkeliling menjajakan dagangannya.

Selain berdagang ala kadarnya, Ia juga berprofesi sebagai tukang urut panggilan. Dua pekerjaan ini ia lakoni untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Saat ini, Ia hidup sebatang kara di Kota Pekanbaru, Riau.

“Kerja berdagang, kadang-kadang ngurut kalau ada pasien. Aku kan ngurut keliling juga,” kata Pak Purba saat ditemui Cakaplah.com, Senin (25/10/2021).

Tarif untuk pekerjaan mengurut pasien tak pernah ia tentukan. Pak Purba mengatakan berapa pun yang diberikan oleh pasien akan ia terima. Bagi yang membutuhkan jasa urut darinya, cukup menelepon lewat nomor handphone yang ia miliki. Karena ia tak selalu 'mangkal' di titik yang sama setiap harinya saat menjajakan kuaci, rokok, dan coklat.

“Kalau mau hubungi aku, nomor aku ada, jadi bisa hubungi dan cari aku. Kalau kalian cari gitu-gitu aja gak akan dapat nanti,” ujarnya.

Ia menuturkan, selain dari berjualan kuaci dan mengurut pasien, ia juga sering mendapatkan bantuan uang atau Sembako dari para mahasiswa UIN dan Unri. Uang itu selalu ia gunakan sebaik-baiknya untuk bertahan hidup.

“Kalau sumbangan banyak, ya enggak juga. Aku seringnya dapat bantuan dari mahasiswa, kalau enggak dari Unri dari UIN. Tapi yang lebih banyak dari UIN, kadang Sembako. Kalau dapat bantuan dari pemerintah gak pernah. Dari mahasiswa yang banyak,” tuturnya.

Dari ceritanya, Pak Purba pernah kehilangan kotak dagangan yang berisikan jajanan ringan tersebut di salah satu halte bus trans metro di area Panam.

Akhirnya, sumbangan dari mahasiswa lah yang membantunya untuk bisa kembali membeli kotak baru yang ia pakai saat ini.

Sedangkan isi kotak dagangan itu, Ia biasa mengambil dari toko langganannya di berbagai tempat di Pekanbaru.

“Barang ambil dari langganan dari Sudirman, Marpoyan, kadang dari Panam, simpang Bangau,” katanya.

Mirisnya lagi, ternyata Pak Purba tidak memiliki tempat tinggal tetap. Untuk berlindung dari panas dan hujan Ia kerap berteduh di hal-halte bus trans metro. Atau kadang di kedai-kedai yang mengizinkannya singgah.

“Biasanya menginap di kedai-kedai nasi goreng dan berpindah-pindah tempat. Aku pedoman sama perasaan aja sama ingatan jalan. Kalo gak ada pedoman kayu ini gak bisa jalan, karena penggerakan dari kayu ini,” pungkasnya.