Ekonomi

Jatuh Bangun Usaha Tahu Sudarno yang Kini Beromzet Belasan Juta Rupiah

SIAK, RIAULINK.COM - Usaha tidak menghianati hasil, begitu pepatah yang tepat menggambarkan kegigihan Sudarno (42) asal Cilacap, Jawa Tengah yang mengadu nasib di Siak dengan mendirikan pabrik tahu di dusun Suka Maju RT 01/RW 04, Kampung Jayapura, Kecamatan Bungaraya, Kabupaten Siak. 

Usaha itu digelutinya sejak tahun 2012 lalu. Berawal dari menyewa tempat kecil dan kini ia mampu miliki rumah petak untuk disewakan dari hasil tahunya. 

Perjalanan sukses itu bukanlah mudah. Jatuh bangun Sudarno mempertahankan usaha tahu yang masih digelutinya hingga saat ini diakuinya sulit. Sebab, produksi awal tahunya terhambat dengan bahan baku yang sulit ditemukan di Siak, apalagi pemasaran yang masih kurang dan rendahnya permintaan di pasar dulunya. 

"Karena biasanya tahu yang dijual di pasar-pasar datang dari daerah lain dulu itu. Tapi saya tetap tekun tawarkan hasil produksi saya dan Alhamdulillah sekarang sudah banyak permintaan," kata pria yang akrab disapa Darno itu. 

Bermodalkan Rp22 juta, ia memulai usahanya tersebut. Dengan biaya sebesar itulah Sudarno memulai usaha dari membeli peralatan dan bahan baku untuk pabrik tahu. 

Hasil produksi pabrik tahu Sudarno dalam perhari mencapai 100 kg. Namun, dimasa pandemi COVID-19 ini, produksi pabrik tahu miliknya turun hingga 50 persen. 

"Saya mulai usaha ini sejak tahun 2012 lalu. Awalnya saya numpang tempat saudara, sekarang saya sudah punya tanah sendiri. Sebelum COVID-19, produksi dalam per hari bisa mencapai 100 kg. Ketika musim pandemi turun tinggal 40-45 kg saja," katanya. 

Omzet yang diperoleh dari usaha tahu tersebut cukup menjanjikan. Dari mulai Rp9 sampai Rp15 juta per bulan. 

"Kalau omzet per bulan sekitar Rp9-Rp15 juta. Tapi kalau kondisi saat ini hanya Rp9 juta, sejak COVID-19 pasar dan warung sepi," tambahnya.

Sudarno juga mengaku, selama menjalani usaha itu belum pernah mengajukan bantuan dari pemerintah atau mengajukan pinjaman di perbankan.

"Belum pernah mas dapat bantuan, mengajukan pinjaman ke Bank saja juga tidak pernah," ujarnya.

Sementara itu, Penghulu Kampung Jayapura Nurhadi Budiono mengatakan, Sudarno sudah lama tinggal di kampungnya. Namun, sampai saat ini identitas Sudarno masih status warga Cilacap, Jawa Tengah.

"Sampai saat ini KTP dia masih KTP Jawa. Dia tidak mau pindah ke sini, karena semua keluarganya ada di Cilacap," kata kepala kampung itu.

Sebagai Penghulu, Nurhadi sangat bangga dengan usaha yang digeluti Sudarno. Menurutnya, warga yang ada di kampung itu hanya Sudarno yang sanggup pulang ke Jawa setahun tiga kali.

"Kalau warga di sini tidak ada yang sanggup seperti mas Sudarno ini, saya saja jarang pulang ke Jawa, kalau dia tiga kali dalam setahun pulang kampung," ungkapnya. (Wahyu)