Pendidikan

Berdinding Kayu, SMAN 7 Dumai Butuh Perhatian Pemerintah

Keterangan foto : Saat Wakil Wali Kota Dumai, Eko Suhardjo (almarhum) meresmikan SMAN 7 Dumai pada 2018 lalu usai berpisah dari dari SMAN 3 yang status sebelumnya hanya sebagai sekolah jauh

DUMAI, RIAULINK.COM - Berdinding kayu, dengan ruang kelas yang minim yakni hanya tiga kelas dan melaksanakan kegiatan belajar-mengajar hanya diisi enam rombongan belajar. Begitulah kondisi SMA Negeri 7 Dumai.

Seperti sekolah yang terletak di sudut Kota Dumai ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah.

Sekolah yang berlokasi di Jalan Lancang Kuning, Kelurahan Gurun Panjang, Kecamatan Bukit Kapur awalnya merupakan kelas jauh SMA Negeri 3 Dumai, Jalan Arif Rahman Hakim, Kelurahan Bukit Nenas, Kecamatan Bukit Kapur.

Sekolah jauh merupakan solusi bagi para siswa yang tempat tinggalnya jauh dari SMAN 3 Dumai tersebut dan diterapkan mulai dari tahun 2013.

"Jadi kita pelopori lah pendirian kelas jauh tersebut mengingat akses menuju sekolah yang cukup jauh dikarenakan banyak dari para siswa-siswinya tinggal di kelurahan yang lebih jauh lagi seperti Kampung Baru dan Gurung Panjang ini,"ucap Jem Harahap yang merupakan pelopor kelas jauh dari sekolah induk reguler SMAN 3 Dumai tersebut sembari berkata agar anak-anak tempatan tetap bisa bersekolah.

Menurut dia, kelas jauh atau biasa disebut filial merupakan kelas yang dibuka di luar sekolah induk, diperuntukan untuk siswa-siswi yang tidak tertampung di sekolah tersebut baik karena keterbatasan sarana dan prasarana termasuk jarak tempat tinggal siswa-siswi yang jauh. 

Namun dengan perjuangan yang dilakukan bersama-sama warga setempat karena anak-anak mereka butuh mengenyam pendidikan, sehingga akhirnya sekolah jauh ditiadakan dan malah dijadikan sekolah baru yakni SMAN 7 Dumai.

“Alhamdulilah pada tahun 2018, SMAN 7 sudah resmi berdiri sendiri, meskipun masih sangat membutuhkan segala pembenahan baik sarana dan prasarana,” kata Jem Harahap kepada wartawan melalui sambungan teleponnya belum lama ini.

Sebagai legislator dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), dirinya sangat menyayangkan minimnya kondisi dari sekolah tersebut karena dari satu ruang kelas saja bisa melaksanakan kegiatan belajar-mengajar sampe dua rombongan kelas.

"Makanya dengan tiga kelas tersebut ditotalkan enam rombongan kelas,"ujarnya miris.

Untuk itu, saat ini dirinya tengah berjuang agar SMAN 7 mendapat perhatian dari pemerintah agar fasilitas baik sarana dan prasarana SMAN 7 bisa layak sama halnya dengan sekolah lainnya pada umumnya. 

“Harapannya, semoga apa yang telah kita ajukan untuk kemajuan SMAN 7 Dumai, dapat segera terealisasi. Karena saat ini, untuk tingkat SMA itu wewenang berada di provinsi,” papar Jem Harahap.

Selain itu, menjelang aktivitas sekolah tatap muka kembali diberlakukan, Jem menginginkan agar apa yang menjadi harapan masyarakat dan wali murid segera terealisasi pembangunan ruang kelas baru.

“Intinya sebagai perpanjangan suara masyarakat, saya akan terus memperjuangkan apa-apa yang menjadi aspirasi masyarakat pada umumnya,” pungkas wakil rakyat Kota Dumai dari dapil III Kecamatan Bukit Kapur dan Sungai Sembilan ini mengakhiri.(kll)