Ekonomi

KKP Dukung Dumai jadi Kawasan Minopolitan

DUMAI, RIAULINK.COM - Wali Kota Dumai, Zulkifli Adnan Singkah menyambut kehadiran Koordinator Penasehat Menteri Perikanan dan Kelautan RI, Rokhmin Dahuri di gedung media centre Kota Dumai belum lama ini.

Kehadiran Rokhmin dalam rangka mendukung perkembangan kasawasan minapolitan atau sentra kelautan dan perikanan terpadu Kota Dumai, khususnya wilayah Kecamatan Sungai Sembilan.

Hal ini terungkap usai Wali Kota Dumai usai menghadiri pertemuan tersebut. "Namun kondisinya masih sangat terbatas karena sesungguhnya kita sangat butuh bantuan dan sentuhan teknologi dari berbagai pihak termasuk Pemerintah Pusat,"ujar dia. 

Menurut dia minapolitan adalah konsepsi pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan berbasis kawasan berdasarkan prinsip-prinsip terintegrasi, efisiensi, berkualitas dan percepatan yang pembangunannya akan dilaksanakan berbagai pihak.

Tidak hanya dari Pemko Dumai saja, tetapi akan melibatkan kerjasama beberapa pihak lain dari luar daerah. "Begitu juga dengan para pengusaha di Kota Dumai dan masyarakat setempat,"terang dia.

Dirinya berharap semoga dengan  kehadiran mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI periode 2001-2004 dapat membisikkan ke pihak kementerian sekaligus mengakselerasi potensi kelautan Kota Dumai lebih maksimal.

"Sehingga sektor perikanan dan kelautan di Dumai dapat berdaya saing serta memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat Dumai,"tutur dia.

Di kesempatan yang sama, Rokhmin Dahuri yang juga guru besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini menyampaikan pemaparan terkait strategi pembangunan berbasis inovasi dan sumber daya alam (SDA) untuk meningkatkan daya saing, pertumbuhan ekonomi inklusif, serta kesejahteraan masyarakat Kota Dumai.

Di sisi lain, Rokhmin melihat ada peluang yang bisa mendukung pembangunan di Dumai lebih baik ke depannya yakni  pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan permintaan barang dan jasa.

Khususnya di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis Industri 4.0. Selain itu, semakin terbukanya konektivitas dengan wilayah lain yakni  adanya pembangunan jalan Tol Pekanbaru-Dumai (Permai).

Meski begitu, Kota Dumai juga masih dihadapkan pada sejumlah kendala lantaran, sektor pertaniandan perikanan masih dilakukan secara tradisional, pengangguran dan kemiskinan, maslah abrasi pantai dan kerusakan lingkungan.

"Selain itu, daya tarik kota relatif rendah, kesiapan ekosistem Industri 4.0 rendah, keterbatasan APBD dan akses permodalan, iklim investasi & kemudahan berbisnis kurang kondusif serta tantangan kualitas SDM," sebut Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia ini.

Ditambahkan dia, wilayah Dumai sangat strategis karena berada pada jalur pelayaran internasional Selat Malaka, yang merupakan wilayah hinterland kawasan segitiga pertumbuhan Indonesia-Malaysia-Singapura (IMS-GT) dan Indonesia-Malaysia-Thailand (IMT-GT). 

"Sedangkan pembangunan Roro Dumai-Malaka juga tengah berjalan sehingga juga bisa menghubungkan dengan negara lain,"ungkap Rokhmin.

Laut Kota Dumai berada di wilayah pengelolaan perikanan (WPP) 571, dengan potensi sumber daya ikan (SDI) 425.443 ton per tahun.

"Pada 2019, produksi perikanan tangkap laut Dumai sebesar 650,88 ton atau 0,15 persen dari potensi WPP 571,"ungkapnya.

"Untuk produksi perikanan budidaya di Dumai pada 2019 mencapai 302,08 ton. Kontribusi terbesar berasal dari kolam (80,8 persen), keramba jaring tangkap (KJT) 9,9 persen, tambak 6,0 persen, dan keramba jaring apung (KJA) 3,2 persen,"tukas dia merincikan. (Kll)