Lingkungan

Akibat Rob, Sebagian Wilayah Dumai Terendam Banjir

DUMAI, RIAULINK.COM - Hampir sebagian wilayah Kota Dumai digenangi banjir rob pada Minggu (18/10/2020). 

Diketahui empat kecamatan di antaranya Dumai Kota, Dumai Barat, Dumai Selatan dan Sungai Sembilan jadi terendam. Ketinggian air diperkirakan mencapai 20  sampai 40 centimeter.

Fenomena alam ini sudah memasuki hari kedua setelah Sabtu, 17 Oktober 2020 kemarin air sempat mengalami pasang surut dari pagi hingga malam yang menyebabkan kediaman warga, bangunan seperti fasilitas umum dan ruas jalan di daerah perkotaan tergenang.

Diketahui rob adalah banjir air laut atau naiknya permukaan air laut mengakibatkan menggenangi daratan dan biasanya terjadi pada kondisi daerah lebih rendah dari air laut.

Sedangkan Kota Dumai merupakan salah satu daerah yang terletak di wilayah pesisir Provinsi Riau.

Letaknya cukup strategis karena berdekatan dengan Negeri Jiran, Malaka (Malaysia) sehingga mengalami perkembangan yang cukup pesat. 

Terus bertambahnya jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi sehingga menjadi faktor pendorong terjadinya alih fungsi lahan, reklamasi pantai dan pembangunan sarana industri yang arah pembangunannya cenderung menjorok ke laut.

Apalagi dengan hadirnya ruas jalan Trans Sumatera area Pekanbaru-Dumai (Permai) mengakibatkan terjadinya degradasi lingkungan baik itu banjir rob, land subsidance (pergerakan tanah) maupun perubahan garis pantai.

Tak itu saja, sejumlah drainase di beberapa sudut kota juga tidak lancar akibat diselimuti banyak sampah. Menjadikan air pun meluap dan sampah yang menumpuk di drainase jadi mengapung dan berserakan kemana-mana.

Khusus hari ini (Minggu) adalah puncak banjir rob di Kota Dumai. Hal ini merupakan sejarah pertama kali di wilayah pantai timur Sumatera ini selama puluhan tahun belakangan.

Sebagaimana yang disampaikan Kambali, warga Kelurahan Sukajadi, Kecamatan Dumai Kota. Menurut dia lebih dari 20 tahun ia tinggal di Dumai, tak pernah dirinya melihat air hingga lebih dari 30 centimeter tersebut.

Sebagai warga yang tinggal dekat area laut, setiap lima tahun sekali memang ada penambahan tinggi air yang pasang.

"Meskipun kami sering merasakan hal ini, namun dalam waktu satu jam sudah kembali surut. Baru kali ini kami melihat penambahan air terus sejak pagi (Minggu) tadi,"ungkap dia kepada riaulink.com.

Direktur Dumai Pos ini juga menjelaskan jika sejak lama para ahli lingkungan memprediksikan kenaikan air laut. 

Salah satunya pemikiran Wali Kota Dumai periode 2000-2005, Wan Syamsir Yus tahun 2002 silam. Ia menirukan jika Wan Syamsir menginginkan pusat pembangunan di wilayah Bagan Besar, Kecamatan Bukit Kapur.

"Karena datarannyakan tinggi seperti pusat perkantoran pemerintahan Kota Duma semua dibangun di sana (Bagan Besar). Permukiman warga juga diharapkan juga mengikuti,"sebut Ketua PWI Kota Dumai dua periode ini.

"Tapi kita tak pernah mempergunakan prediksi para ahli itu sebagai pertimbangan pembangunan,"ungkapnya.

Meskipun ia tak menampik, setiap pergantian pemimpin pasti berbeda pula kebijakan dan programnya. 

"Namun seharusnya ini jadikan program berkelanjutan dan pemerintah harus fokus,"tutur dia lagi.

Senada yang dirasakan Agus Sunarto. Warga Kelurahan Rimba Sekampung, Kecamatan Dumai Barat. Ia mengatakan jika daerahnya sudah dijuluki "Kelurahan Banjir Sekampung". Pasalnya setiap air pasang, selalu kebagian banjir.

"Biasanya kalo sudah banjir seperti ini dijadikan para bocah untuk berenang. Ada juga dijadikan warga untuk bermain sampan,"papar Agus.

Padahal, bagi dia khusus musim pilkada, Rimba Sekampung cukup banyak memberikan kontribusi pada kemenangan paslon yang diusung.

"Namun rupanya tak banyak manfaatnya untuk daerah kami. Itu terus-menerus setiap ajang pemilihan, apa mungkin karena efek siraman,"katanya sedikit menyinggung pemerintah sembari tertawa.

"Tapi karena sudah terbiasa, makanya kami happy aja,"pungkasnya(kll)