Lingkungan

Ilegal Logging Masih Marak di Meranti

MERANTI, RIAULINK.COM - Sampai saat ini Aktivitas dalam penebangan Kayu hutan alam Secara Ilegal diwilayah Meranti masih berlangsung. Bahkan, Kayu diduga Ilegal itu digunakan seluruh Galangan Kapal yang ada di Kota Selatpanjang.

Menyikapi hal tersebut, Anggota DRPD Meranti Dedi Yuhara Lubis saat dikonfirmasi Wartawan Riaulink.com, Senin (21/09/2020) pagi menyampaikan kalau dilihat dari izin ada sebagian pemilik Usaha Galangan Kapal memiliki Izin, dan selebih nya mungkin tidak ada izin.

"Sebagian ada Izin, namun kalau dilihat serta laporan dari Lapangan pelaku usaha Galangan Kapal kebanyakan menggunakan Kayu Ilegal dengan jumlah 3 sampi 10 Ton setiap masuk," ujarnya.

Diketahui Wartawan Riaulink.com dilapangan, Seperti halnya pelaku usaha dibidang galangan kapal dilingkungan Tanjung Harapan dan Sungai Juling, Kota Selatpanjang Kecamatan Tebing Tinggi masih berlambak alias Banyak dan diduga masih mengunakan bahan baku (Kayu) yang didatangkan dari luar Selatpanjang.

Untuk memenuhi kebutuhan, para pengusaha ini diduga nekat menggunakan kayu-kayu olahan illegal.Tak tanggung-tanggung, sekali datang, galangan kapal itu dipenuhi bilahan kayu sebanyak 3 hingga 10 ton.

"Kayu yang digunakan untuk membuat Kapal bahanya didatang kan dari Luar Kot Selatpanjang (Tebingtinggi Timur desa Sungai Tohor,red). Untuk pemasukan kayu ke Galangan Kapal dalam satu bulan ada 3 dan 4 saja," kata lelaki yang enggan disebutkan Namanya saat dijumpai disalah satu Galangan Kapal.

"Untuk membuat satu unit kapal, Pemilik Galangan harus mencari kayu sebanyak 10 Ton dan kayu tersebut kita dapatkan dari Sungai Tohor," tambah lelaki Tua ini.

Sementara itu, saat Wartawan Riaulink.com mencoba untuk konfirmasi ke beberapa pihak Pemilik Galangan Kapal terkait Izin Bahan Baku lewat telpon hingga ke lokasi Galangan yang bersangkutan tidak berada di Tempat dan selalau menghindar saat dijumpai. (Aldo)