Sosbud

Pelestarian Zapin dan 'Hilangnya' Maestro di Riau

PEKANBARU, RIAULINK.COM - Provinsi Riau telah ditetapkan menjadi kiblat dalam hal pelestarian tari Zapin se-Asia Tenggara sejak 2017 lalu. Hal ini berangkat dari kekayaan variasi Zapin yang dimiliki oleh "Bumi Lancang Kuning". 

Sedikitnya, Riau memiliki 7 varian Zapin berdasarkan karakteristik daerah, mulai dari Zapin Bengkalis, Zapin Pelalawan, Zapin Indragiri Hilir, Zapin Meranti, Zapin Rokan Hilir dan Zapin Dumai. 

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, Raja Yoserizal Zen mengatakan, penunjukan Riau sebagai daerah pusat pelestarian Zapin berangkat dari kesepakatan para pelaku seni dalam sebuah konvensi kebudayaan beberapa tahun lalu. 

"Karena memang Riau ini diakui sebagai daerah yang memiliki varian Zapin paling banyak dibandingkan provinsi lain. Bahkan, negara-negara rumpun Melayu seperti Malaysia dan Singapura hanya memiliki 1 varian Zapin," kata Yose.

Bahkan, kata Yose, dari 7 varian Zapin yang ada di Provinsi Riau, tiga di antaranya telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. 

"Yang sudah ditetapkan sebagai WBTB melalui sidang penetapan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah Zapin Api (Pulau Rupat), Zapin Meskom (Bengkalis) dan Zapin Siak," ungkapnya. 

Lebih lanjut dikatakan Yose, secara umum perbedaan Zapin di masing-masing daerah ini dapat diidentifikasi dari beberapa hal. 

"Kita bisa melihat perbedaan dari karakteristiknya, misalnya Zapin Api, dalam pertunjukkannya ada permainan api, kemudian kita bisa melihat dari langkahnya, walaupun sama-sama langkah Alif, tapi satu sama lain memiliki perbedaan," terang Yose. 

Lebih lanjut Yose menerangkan, untuk mengidentifikasi tari Zapin di satu daerah, ada tiga syarat utama yang harus diketahui. "Yang pertama ada Kerjaan Islam di daerah tersebut, kemudian ada debus, serta ada maestro," terangnya.

"Kita juga bisa melihat dari Notasi Laban, ini seperti notasi pada lagu, kalau dalam Zapin namanya Notasi Laban," kata Yose lagi.

Hingga saat ini, ungkap Yose, pihaknya terus melakukan kajian dalam rangka upaya pelestarian Zapin di wilayah setempat.

Dia mengakui, Riau dengan kekayaan khasanah budaya yang dimiliki, tidak menutup kemungkinan meninggalkan jejak  sejarah masa lalu untuk diungkap.

"Contohnya di Pekanbaru, dulu ada Zapin persebatian, perpaduan antara Siak dan Kerajaan Lingga. Kemudian di Indragiri Hulu juga ada, tapi saat ini kita tidak bisa lagi menemukan maestronya. Karena itu kita terus berupaya melakukan kajian supaya Zapin ini dapat kita lestarikan," kata Yose.