Sosbud

Tokoh Masyarakat Riau: Aneh LSM Lingkungan Menilai Orang yang Belum Bekerja

Wan Abu Bakar

PEKANBARU, RIAULINK.COM - Penilaian miring terhadap  Makmun Murod yang disampaikan aktivis lingkungan dari Walhi dan Jikalahari dianggap menyesatkan oleh tokoh masyarakat Riau Wan Abu Bakar. Bahkan penilaian itu dirasakan aneh dan kurang mengena.

"Saya menganggap aneh saja sekelas Walhi dan Jikalahari menilai orang yang belum bekerja. Agak kurang level saya kira. Tapi,  kalau yang dinilai itu calon gubernur atau calon menteri mungkin baru levelnya," ungkap Wan Abu Bakar yang juga tokoh asal Kepulauan Meranti, Sabtu (30/5/2020).

Terlebih terhadap sosok Makmun Murod, Kepala Bappeda Kabupaten Kepulauan Meranti yang juga pernah menjabat Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan. Tudingan bahwa yang bersangkutan berperan besar meloloskan RAPP dan anak perusahaannya PT SRL (Sumatera Riang Lestari) beroperasi di Meranti dinilai mengada-ngada oleh Wan Abu Bakar.

"Perlu dipahami kewenangan kehutanan paling besar itu ada di Provinsi dan pusat, bukan di dinas kabupaten/kota," tegas Wan.

Sepengetahuan Wan Abu Bakar, malah Murod berperan besar menyelamatkan hutan dan lahan gambut di Meranti. Diantara terobosan yang dilakukan adalah menonjolkan komoditas unggulan lokal berupa sagu dan kopi yang menjadi identitas daerah yang diakui di Kementerian Pertanian. Sebagai Doktor di bidang lingkungan dia paham betul bahwa kelapa sawit kurang cocok dikembangkan di wilayah kepulauan yang didominasi gambut. 

"Setahu saya, saat Murod menjabat Kadis Kehutanan Meranti, dia mampu menyakinkan Bupati untuk mengembangkan komoditi selain sawit meskipun untuk kabupaten lain khususnya Riau daratan menjadi andalan. Hal tersebut dilakukan untuk menyelamatkan lahan gambut. Hal ini tentu berbeda, untuk Riau daratan dimana Kelapa Sawit bisa berkembang dengan baik.

Kebijakan itu mendapat dukungan pusat yang pada akhirnya menjadikan Meranti pilot project restorasi  gambut nasional. Bahkan, kata Wan, dirinya juga mengetahui betul sepak terjang Murod mengangkat sagu Meranti ke level nasional.

"Pertama di Indonesia, varietas sagu Meranti berhasil dilepas atas usaha Murod sebagai Kadis Kehutanan dan Perkebunan di Meranti. Atas keberhasilannya dalam mengembangkan sagu, Murod diminta Kementerian Pertanian sebagai Tenaga Ahli dalam menyusun Grand Design Pengembangan Sagu di Indonesia. Begitu juga kopi liberika Meranti yang dikembangkan hingga menjadi salah satu kopi indeks geografis (IG) nasional," jelas mantan Gubernur Riau tersebut.

Atas dasar itulah, Wan Abu Bakar merasa terkejut jika ada yang menuding seakan-akan Murod tidak care dengan kelestarian hutan di Meranti. 

"Saya kira tudingan itu terlalu dini dan kurang mengena. Orang Meranti lebih tahu dan sudah merasakan kinerja Murod. Buktinya dia dipercayakan sebagai Kepala Bappeda oleh Bupati Meranti," tutup dia. (Aldo)