Nasional

PB IKAMI Sulsel Periode 2020-2022 Sah Dilantik, 'Lao Sappa Deceng Lisu Mappadeceng'

Rahmat Al Kafi ketua umum pengurus Besar Ikami Sulsel periode 2020-2022

JAKARTA , RIAULINK.COM - Ketua Umum Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa/Pelajar Indonesia Sulawesi-Selatan (Ikami Sul-Sel), Rahmat Alkahfi, mengingatkan falsafah Bugis ‘Lao Sappa Deceng, Lisu Mappadeceng’ kepada mahasiswa dan pelajar yang tengah menimba ilmu di DKI Jakarta.

Secara harfiah, ‘Lao Sappa Deceng, Lisu Mappadeceng’ bermakna ‘pergi untuk mencari kebaikan, setelah itu kembali untuk menyebarkan kebaikan’. Menurut Rahmat, falsafah itu penting dijadikan prinsip agar mahasiswa tidak terlena dengan gemerlap metropolitan, sehingga enggan kembali membangun kampung halaman.

Penyakit lupa kampung halaman kerap menjangkiti perantau hingga mahasiswa jika merasa nyaman di perantauan. Fenomena demikian harus ditinggalkan agar tanah kelahiran tidak ketinggalan zaman.

“Lao Sappa Deceng, Lisu Mappideceng, jangan lupa kampung halamanta,” tutur Rahmat saat melantik pengurus PB Ikami Sul-Sel, di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat, Selasa malam (25/2).

Masyarakat Bugis, selain terkenal dengan budaya maritim yang handal, memang dikenal dengan tradisi rantaunya yang sangat kuat. Dunia rantau bagi mereka sudah mendarah daging.

Aktivitas mengarungi belahan bumi itu telah mengakar selama berabad-abad silam. Tak mengherankan jika tradisi itu hingga kini masih melekat. Tapi tak hanya sebatas nelayan atau berdagang. Pelajar dari tanah Bugis banyak ditemui di kampus ternama di Tanah Air hingga luar negeri.

 

Kendati begitu, tradisi merantau harus membawa kebaikan. Pandangan visioner membangun kampung halaman harus ditanamkan. Dalam artian, belajar atau menuntut ilmu di luar daerah merupakan pilihan, tapi tak boleh melupakan tanah kelahiran. “Kita harus tanamkan itu,” seru Rahmat dari atas podium.

Hal serupa disampaikan Wakil Gubernur Sul-Sel, Andi Sudirman Sulaiman. Ia mengaku membatalkan sebuah acara di Solo, Jawa Tengah demi menghadiri pelantikan pengurus Ikami. Bukan tanpa alasan, ia menilai mahasiswa yang berada di Jakarta adalah aset yang dimiliki pemerintah Sulawesi Selatan.

“Tapi, ingat Lao Sappa Deceng, Lisu Mappadeceng’,” tutur Andi Sulaiman disambut tepuk tangan para peserta.

Secara spesifik, Andi Sudirman mengingatkan agar mahasiswa yang tergabung dalam Ikami tidak melupakan tanah kelahiran mereka. Ilmu yang didapatkan di Jakarta harus dijadikan modal besar membangun kampung halaman, dan Sulawesi Selatan secara umum.

“Artinya kita mencari ilmu dan sebagainya, bisa juga artinya ke masyarakat untuk mengabdi dan bagaimana untuk membuat yang terbaik,” ucap dia.