Sosbud

Menelesik Sejarah Singkat Desa Sendaur di Meranti 

MERANTI, RIAULINK. COM - Ternyata Desa Sendaur, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau memiliki sejarah yang menarik.

Ditelusuri Riaulink.com dilapangan, sesuai penjelasan singkat dari Kaur Desa Sendaur bernama Khairul Amri kalau asal mula kata Sendaur  Menurut bahasa Melayu berasal dari kata Sendawe. 

Yang mana arti dari perkataan tersebut memiliki arti yakni kenyang. Kata sendawe ini, di ambil dari Sendau artinya Air yang banyak. Sedangkan menurut istilah yang berarti daerah yang senantiasa di genangi air hal ini di sebabkan oleh derasnya aliran air yang berasal dari Hulu sungai Sendaur. 

Dilanjutkan cerita, dahulu kala Desa Sendaur  masih berupa hutan lebat yang berada di tebing Sendau sampai ketebing Sungai Melai. Hutan tersebut tumbuh berbagai jenis pepohonan seperti Nibung, kayu dan Sagu. 

Singkat cerita, sekitar tahun 1935 datanglah kakek Ulik (H. Imran ) dan kawan-kawannya (H. Bakri, H. Said, Wak Konel, M. [email protected], dll) dari negara jiran yakni Malaysia.

Diketahui, mereka datang karena di Malaysia sedang terjadi perperangan dengan Inggris. oleh karena itu mereka datang kedaerah yang dikenal dengan nama Hulu Mudik Sungai Sendau untuk membuat perkampungan. 

Menurut cerita dari orang tua dahulu yang meninggalkan kami, karena sebagian besar dari rombongan mereka suku banjar, mereka mencari daerah yang mirip dengan daerah asal mereka di Tabalong Kalsel.

Rombongan tersebut melakukan survei ke daerah hingga sampai ke Kabupaten Siak, Pakning, Tungkal, Bengkalis, dan tempat lain. Pada akhirnya dipilihlah Pulau Rangsang tepatnya di antara Hulu Sungai Sendau dan Hulu Sungai Melai untuk areal pertanian dan perkebunan.

Selain itu, untuk masuk kedaerah tersebut mereka mendapat izin dari Penghulu Selatpanjang yang bernama Encik Ibrahim dan atas seizin Sultan Kerajaan Siak Sri Indrapura dengan wilayah dari tebing Sungai Sendau sampai ketebing Sungai Melai.

Awalnya dari beberapa keluarga, kampong tersebut menjadi ramai di datangi pengungsi perang dari Malaysia, saat itu kampong tersebut masih bernama Hulu Mudik sungai Sendau.

Selanjutnya karena dalam pembukaan lahan banyak pohon-pohon Nibung, maka dari bernama Hulu mudik Sungai Sendau atas kesepakatan masyarakat berubah menjadi kampong Parit Nibung. 

Tak sampai disitu, Khairul Amri menyebutkan semula kampong Parit Nibung terbentang dari selatan ke utara di antara dua sungai, yaitu sungai sendau dan sungai Melai,  dan selanjutnya sedikit membelok kerah timur sekitar 1 KM yakni jalan nibung II yang saat ini menjadi jalan Sentul Jaya.

Semakin bertambah ramainya jumlah penduduk semakin besar kawasan hutan yang di terpakai, sehingga sekitar tahun 1970 pembukaan perkampongan dan perkebunan semakin berlanjut kearah timur hingga sampai perbatasan Desa Kayu Ara. 

Sejak itu kampong parit Nibung terpecah menjadi tiga kampong yaitu kampong Parit Nibung, Kampung Parit Sentul dan Kampong Parit Teladan. 

Tahun 1940an kampong ini masuk wilayah Desa Melai. Kampong Parit Nibung, kampong Parit Sentul dan Parit Teladan di mekarkan menjadi sebuah Desa berpisah dari Desa Melai. Desa tersebut sesuai asal usulnya di beri nama desa sendau, tertulis Sendaur atas perjuangan Bapak Ilyas Bacok.

Pembentukan Desa Sendaur sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Bengkalis Nomor 07 Tahun 2004, ditandatangani oleh Bupati Bengkalis bapak Dr. H. Syamsurizal, MM saat itu. 

Berikut nama-nama Pejabat Kepala Desa Sendaur mulai berdirinya sampai sekarang, 
1. Tahun 2004-2009 Ilyas Bacok Sebagai Kepala Desa Pertama. 

2. Tahun 2009-2010 Aminullah, S.Ag, SH Sebagai Pj. Kepala Desa. 

3. Tahun 2010-2016 Khaidir. 

4. Tahun 2016-2017 Sanusi Pane Sebagai Pj. Kepala Desa. 

5. Ardianto, S.Th.I 2018 - Sekarang sebagai Kepala Desa Definitif.  (Aldo)