Sosbud

Setelah LAM Riau, Giliran LAM Pekanbaru Dukung Pelaksanaan BMR Harus Serius

Ket Foto : Tampak Ketua LAM Kota Pekanbaru saat menerima kunjungan Ketua IKA FIB Unilak, Safari Ar Riziq S.Hum

PEKANBARU, RIAULINK.COM - Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Pekanbaru mendukung penerapan bidang studi muatan lokal Budaya Melayu Riau (BMR) di seluruh jenjang pendidikan se-Kota Pekanbaru. Bahkan seperti yang dikatakan Ketua LAM Kota Pekanbaru, Datuk Yose Syaputra, hal ini harus benar-benar digarap serius oleh Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru.

"Ini sangat penting dan harus benar-benar digarap dengan serius oleh Pemko Pekanbaru melalui dinas terkaitnya," tegas Datuk Yose saat menerima kunjungan silaturahmi Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning (IKA FIB Unilak), Safari Ar Riziq, S.Hum, di Balai Adat Melayu Kota Pekanbaru, Rabu pagi (11-09-2019).

Keseriusan Pemko Pekanbaru, sambung Datuk Yose, sangat penting sebab menurutnya disinilah memperlihatkan bahwa Pemko Pekanbaru benar-benar serius dalam menjaga dan melestarikan Budaya Melayu di tanah Pekanbaru.

"Dengan keseriusan Pemko Pekanbaru tentu kita dapat memberi bekal, tunjuk ajar Melayu, kepada anak-anak kita. Bekal inilah yang akan menanamkan jati Melayu itu di diri anak-anak kita sehingga tak mudah kehilangan jati diri ketika diserbu oleh kebudayaan luar yang saat ini sangat kuat menyerang," katanya.

Sebagai informasi, kedatangan Ketua IKA FIB Unilak, Safari Ar Riziq, ke Balai Adat Kota Pekanbaru memang untuk mencari dukungan terkait pemberlakuan dan pelaksanaan bidang studi Budaya Melayu Riau. Sebelumnya, sambutan dan dukungan juga telah dinyatakan pula oleh Lembaga Adat Melayu Provinsi Riau (LAMR).

Langkah ini sendiri, papar Ketua IKA FIB Unilak yang akrab disapa Riziq itu, dilakukannya karena melihat pelaksanaan dan penerapan bidang studi Budaya Melayu Riau masih setengah hati dilakukan sekolah-sekolah. Bahkan didapati, masih banyak sekolah yang belum melaksanakannya.

"Hal ini tentu sangat miris. Kita sangat sedih melihat kenyataan ini. Bagaimana kita bisa menjadi pusatnya kebudayaan Melayu seperti yang diagungkan selama ini, jika upaya pelestariannya melalui pendidikan kepada anak-anak kita saja masih setengah hati kita lakukan?" ujar Riziq.

Sementara itu, sambungnya, beberapa sekolah yang melaksanakan jam belajar mengajar Budaya Melayu Riau juga masih jauh dari harapan. Salah satunya terkait dengan guru pengampu yang tidak sesuai kompetensi akademisnya.

"Kita menyambut baik bagi sekolah yang telah melaksanakan ini. Tapi sayang, mengapa guru pengampu kebanyakan bukan dari latar akademis yang sesuai. Hal inilah yang patut kita carikan solusi dengan seksama. Jangan pelaksanaannya hanya berkesan membayar hutang saja. Sudah terlaksana ya sudah," tegas Riziq.(***)