Riau

Perjalanan Panjang Bonita Hingga Kembali ke Rimba di Penghujung Cerita

Bonita (Foto: Dok. BKSDA)

PEKANBARU, RIAULINK.COM - Perjalanan panjang Harimau Bonita untuk kembali ke rimba sampai di penghujung cerita. Harimau yang pernah memangsa warga itu dilepasliarkan usai serangkaian proses penyelamatan. 

Sebagaimana diketahui, awalnya harimau Bonita dievakuasi dari habitatnya di Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Inhil pada April 2018 lalu. Harimau betina yang diberi nama Bonita ini sempat ramai dibicarakan dunia internasional karena membunuh 2 warga Riau bernama Jumiati dan Yusri.

Akibat ulah harimau Bonita yang memangsa manusia itu, warga setempat sempat ingin membunuh harimau Bonita. Namun, rencana ini langsung ditolak aktivis WWF Riau Bidang Harimau melalui aksi demo.

"Kita maklumi warga emosi melihat harimau yang sudah memangsa dua korbannya. Ancaman untuk membunuh harimau Bonita juga bukan solusi yang tepat," kata aktivis WWF Riau bidang harimau Sumatera, Soemantri alias Abeng, seperti yang dilansir dari detik.com, Rabu (14/3/2018).

Menurut Abeng, dalam mengatasi konflik yang terjadi di Kecamatan Pelangiran, Kab Indragiri Hilir (Inhil), sebaiknya antara warga dan harimau harus sama-sama diselamatkan. Saat itu tim gabungan bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau tengah berusaha mendapatkan Bonita agar bisa dievakuasi.

Sedangkan proses untuk menangkap Bonita pasca menerkam dua warga, membutuhkan waktu selama 3 bulan lamanya. Tim BBKSDA bersama TNI/Polri dan masyarakat tak kenal lelah untuk mencari Bonita sampai akhirnya tertangkap pada Jumat (20/4/2018).

Bonita tertangkap di kawasan perkebunan sawit blok 79 Afdiling IV kebun Eboni PT THIP, Desa Tanjung Simpang Kec Pelangiran, Inhil. Bonita tertangkap usai tubuhnya terkena tembakan obat bius.

Selanjutnya, selain Bonita, harimau Sumatra jantan bernama Atan Bintang juga dievakuasi pada November 2018 lalu karena terjebak di bawah rumah toko di Pasar Pulau Burung Kecamatan Pulau Burung.

Pasca dievakuasi, kedua satwa liar ini dikirim ke Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya milik Yayasan Arsari Djojohadikusumo (PR-HSD). Yayasan ini merupakan milik adik Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo yang bekerjasama dengan Kementerian LHK. Kedua harimau liar ini hasil pemeriksaan medis dinyatakan sehat dan segera akan dilepasliarkan. Namun, untuk memantau keduanya, Tim BBKSDA memasangi kedua harimau Sumatra itu dengan kalung GPS Collar.

"Hari ini akan dilakukan pemasangan GPS Collar terhadap dua harimau tersebut. Dengan pemasangan GPS Collar diharapkan keduanya akan segera dilepasliarkan di Riau," kata Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Suharyono kepada detikcom, Senin (29/7/2019).

Setelah GPS Collar dipasang, sambung Haryono, akan dilakukan penyesuaian selama 2 x 24 jam setelah pemantauan secara teknis efektifitas signal yang akan dikeluarkan GPS tersebut.

"Sebagaimana diketahui, sejak awal kita tidak akan membagi informasi ke publik di mananya itu tidak akan beritahukan. Hal ini tentunya terkait untuk keselamatan harimau sumatera itu sendiri," kata Haryono.

Kedua satwa itu resmi dilepasliarkan dalam sebuah prosesi di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PR-HSD) di Sumatera Barat, Senin (29/7/2019). Prosesi itu dipimpin juga oleh Hasim.

"Dengan ini, Bonita dan Atan Bintang resmi kita lepas kembali ke habitatnya," kata Hashim sambil mengusap kendaraan berisi dua harimau, Bonita dan Atan Bintang, yang ada dalam kerangkeng.