Ekonomi

Lembaga asal AS Berniat Glontorkan Investasi ke Indonesia Rp 3,5 Triliun

RIAULINK.COM - Lembaga investasi asal Amerika Serikat (AS), Overseas Private Investment Corporation (OPIC) berniat menyalurkan pendanaan investasi di Indonesia mencapai Rp3,5 triliun dalam lima tahun mendatang. Angka itu dua kali lipat dari total investasi tahun sebelumnya.

Kepala Staf OPIC Eric Jones mengatakan pendanaan investasi OPIC di Indonesia baru mencapai US$125 juta tahun lalu. Dengan demikian, ia berharap pendanaan ke Indonesia bisa meningkat menjadi US$250 juta atau setara Rp3,5 triliun pada 2024 mendatang.

Investasi akan digelontorkan asalkan proyek yang ditawarkan benar-benar sesuai dengan sektor prioritas OPIC. Selain itu, syaratnya pun memadai untuk mendapatkan pendanaan (bankable). 


"Selama memang ada proyek yang ditawarkan ke kami dan itu memenuhi syarat pendanaan, kenapa tidak? Kami selalu mengajak perusahaan AS yang berinvestasi di luar untuk datang ke kami," jelas Eric di Kediaman Duta Besar AS untuk Indonesia, Senin (24/6).

Menurutnya, ada dua alasan terjadinya peningkatan pendanaan investasi ke Indonesia. Pertama, Indonesia adalah bagian dari regional Indo-Pasifik yang merupakan salah satu fokus pendanaan OPIC. Wilayah ini dipilih karena masih terdapat negara-negara berpendapatan bawah atau menengah ke bawah yang merupakan fokus utama OPIC.

Kedua, OPIC berencana bertransformasi menjadi US International Development Finance Corporation (DFC) setelah pemerintah AS menyetujui Undang-Undang Better Utilization of Investments Leading to Development di tahun lalu.

Di dalam DFC, OPIC akan bergabung dengan institusi keuangan khusus pembangunan lain yang dimiliki oleh pemerintah AS. Dengan demikian, kapasitas pendanaan OPIC juga akan meningkat dari US$29 miliar menjadi US$60 miliar.

Eric melanjutkan perubahan OPIC menjadi DFC juga bisa membuat instansinya leluasa untuk menyalurkan pendanaan. Pasalnya, OPIC juga bisa ikut melakukan studi kelayakan proyek, memberikan prioritas proyek tergantung dengan profil risikonya, dan merelaksasi ketentuan bahwa kini perusahaan dengan 25 persen kepemilikan AS di negara lain sudah layak mendapat pendanaan dari sini.

"Ini bisa meningkatkan pendanaan kami di wilayah Indo-Pasifik. Setiap tahun, kami memberikan pendanaan ke Indo-Pasifik sebesar US$750 juta per tahun, kami harap bisa meningkat menjadi US$1 miliar," jelas dia.

Pendanaan OPIC memang hanya terbatas bagi investasi perusahaan AS di negara-negara lain. Hanya saja menurut Eric, OPIC benar-benar menyeleksi ketat jenis investasi yang bisa dibiayai.

Hal yang pasti, investasi tersebut harus memenuhi standar kelayakan lingkungan. Jangan sampai, investasi tersebut mengesampingkan kelestarian alam dan tidak mengindahkan generasi masa depan.

Kemudian, investasi tersebut harus mementingkan penggunaan tenaga kerja lokal. Proses investasi pun harus dikelola secara transparan.

"Kami juga meminta perusahaan untuk tetap menjaga utang di level yang tepat, jangan sampai (utang) mengorbankan kemandirian mereka," jelasnya.

Sekadar informasi, OPIC merupakan sebuah lembaga mandiri pemerintah AS untuk mendukung pendanaan investasi perusahaan AS di negara berkembang yang didirikan sejak 1971 dan beroperasi di 160 negara. Hingga 2019, pendanaan OPIC di kawasan Indo Pacific mencapai US$3,1 miliar sebanyak 75 proyek.