Kesehatan

Batuk Selama 8 Bulan, Ternyata Penyakit ini Penyebabnya

Ilustrasi.int

RIAULINK.COM - Seorang pria mengalami batuk selama 8 bulan namun dokter salah mendiagnosis penyakitnya.

Menurut Yangtze River Daily melalui Toutiaopada Senin (4/2/2018), seorang pria bernama Wen dari Tiongkok mengaku menderita batuk selama 8 bulan.

Kemudian dia mengunjungi Rumah Sakit Donghu di Wuhan pada (3/3/2019) dan memberi tahu tentang penyakit yang dideritanya.

Awalnya dokter hanya mendiagnosis bahwa ia menderita batuk biasa, pasalnya ketika cuaca dingin penyakit batuk akan meningkat.

Oleh karena itu dia diberikan obat anti-inflamasi untuk menurunkan batuknya.

Namun, batuknya tidak sembuh dan jutru semakin parah, terutama setiap makan malam.

Ketika Wen berbaring dia akan betuk hingga mengalami muntah, hal itu juga membuat keluarganya tak bisa tidur karena khawatir.

Hal itu karena dia merasa seperti ada benda asing dalam tenggorokannya ketika sedang batuk.

Saat ia, memeriksakan kembali ke rumah sakit, Wen kemudian melakukan pemantauan PH selama 24 jam dari kerongkongannya.

Dokter Wu Fang yang merawatnya menyimpulkan mungkin di menderita refluk gastrosofagus.

Wu Fang mengatakan, bahwa obat batuk serta obat anti-inflamasi tidak berpengaruh, karena dia harus diobati dengan obat anti-refluks dan penekanan asam.

Lantas bagaimana bisa penytakit perut bisa menyebabkan batuk luar biasa?

Wu Fang menjelasakan, bahwa banyak orang memiliki pengalaman ini.

Tidur siang akan menyebabkan makanan di perut naik, hal itu menyebabkan tenggorokan terasa panas.

Kadang-kadang refluks tidak masalah, tetapi asam lambung bersifat korosif, jika sering direfluks, akan menyebabkan iritasi pada kerongkongan dan tenggorokan, dan akan ada gejala seperti mulas dan mual.

Setelah itu refluks ke saluran pernapasan, Anda akan mengalami batuk dan asma, terutama di malam hari.

Ini adalah kasus yang dialami Wen.

Wu Fang mengatakan bahwa ini terkait dengan kebiasaan makan kebarat-baratan dan tekanan hidup orang muda.

Banyak anak yang mengalami batuk berulang, otitis media, radang amandel, dan mungkin juga disebabkan oleh refluks asam.

Wu Fang mengingatkan bahwa pasien dengan gastroesophageal reflux sering mengalami infeksi Helicobacter pylori.

Jika infeksi Helicobacter pylori terdeteksi oleh insuflasi karbon, pengobatan antibakteri juga harus dilakukan. 

Helicobacter pylori menular, dan yang terbaik bagi keluarga untuk melakukan pemeriksaan dan mengobatinya jika perlu.